Dari ketinggian, kota Hesperis hanya terlihat seperti hamparan cahaya yang berserakan, seolah bintang jatuh tersebar di bawah kaki mereka.

Empat sosok melayang diam di udara. Seorang wanita terlihat gemetar dalam dekapan wanita lainnya, wajah wanita yang mendekapnya terlihat tegang menahan kesal yang belum padam. Di sisi lain, seorang pria merangkul erat seorang wanita berambut pendek yang masih pucat, tubuhnya kaku seperti belum sepenuhnya percaya bahwa ia berdiri di langit.

"Kanaya, tunjukkan arah markas kalian." suara Lynx terdengar dingin dan tajam, tak memberi ruang untuk bantahan. Lynx masih belum menyadari kondisi Leena yang menatap tajam ke arahnya.

Dengan ragu, Kanaya mengangkat tangannya, menunjuk ke satu arah di kejauhan. "Lurus saja ke sana. Kamu akan melihatnya."

"Leena, kita berangkat sekarang." kata Lynx datar tanpa menoleh sedikit pun.

Tubuhnya melesat ke depan, membawa Kanaya bersamanya. Leena mengikuti tak jauh di belakang, tetap memegang erat Ratih yang masih gemetar.

Angin malam menyapu wajah mereka saat meluncur di atas kota. Lynx menjaga kecepatan tetap tenang, tidak ingin Kanaya melewatkan satu titik pun dari jalur yang mereka lewati.

Ratih yang dipeluk Leena menoleh sedikit, suaranya parau. "Apakah kalian masih manusia? Siapa kalian sebenarnya?"

Leena tidak menjawab. Tatapannya kosong, mengarah jauh ke bawah, menyusuri kerlap-kerlip lampu kota yang baginya terasa asing, padahal dulu begitu akrab.

Ratih diam-diam memperhatikan sosok Lynx yang terbang tenang di depan. Wajahnya tegang. Pikirannya melayang ke cerita sejarah yang selama ini ia anggap mitos.

"Mungkinkah dia... keturunan pahlawan masa lalu? Manusia super..." gumamnya lirih. "Semua kemampuannya cocok. Dia bisa terbang, tubuhnya tak terluka, dan... bisa mengeluarkan laser."

Ia menarik napas pendek. Ingatannya membawanya pada kisah ratusan tahun lalu. Seorang bayi dari planet yang hancur jatuh ke dunia ini. Ia tumbuh dan melindungi bumi dari serangan makhluk luar angkasa. Warga bumi memanggilnya pahlawan. Karena dialah, umat manusia mulai menerima kehadiran makhluk asing. Ilmu pengetahuan melesat, teknologi berkembang lebih cepat dari waktu.

Namun, saat ancaman besar datang, manusia menciptakan alat pelindung. Sesuatu yang memblokir semua bentuk kehidupan non-bumi. Sejak itu, tidak ada lagi makhluk asing, tidak ada lagi manusia super. Semua lenyap dari peradaban.

Ratih menatap punggung Lynx. Matanya menyipit, napasnya menahan tanya yang membebani lidahnya."Hanya satu cara membuktikannya." batinnya sambil menggenggam liontin kalung yang tersembunyi di balik pakaiannya.

Lynx mendadak berhenti di udara. Tubuhnya melayang diam, nyaris tak bergerak, hanya rambutnya yang berkibar pelan diterpa angin malam. Matanya menatap lurus ke bawah, ke arah yang ditunjuk Kanaya. Sebuah bangunan besar di tanah lapang luas.

Di tempat tersebut, tampak barisan kendaraan tempur yang belum pernah di lihat oleh Lynx dan Leena berjejer rapi, membentuk blokade seperti benteng besi. Menara penjaga berdiri tegak di beberapa titik, dengan sorotan lampu yang menyapu langit dan tanah secara bergantian. Pasukan bersenjata lengkap berjalan cepat di bawahnya, membawa senjata berkilau yang asing bagi mata dari dunia manapun. Deretan drone tempur menggantung di udara, mengawasi setiap pergerakan, siap menembak tanpa peringatan. Para pasukan khusus yang menggunakan pakaian tempur sama persis dengan pakaian Lynx yang diberikan Kael juga ada puluhan orang dengan senjata laser tergenggam di tangan mereka.

Kanaya menarik napas panjang lalu berkata, "Kamu lihat? Mereka sudah bersiap menghadapimu." Nada suaranya penuh tekanan. "Kamu tidak akan bisa melewati itu semua dan semua perlawananmu menghadapi mereka akan dianggap sebagai bukti bahwa kalian berbahaya."

Lynx tidak segera menjawab. Matanya masih terpaku pada pergerakan pasukan di bawah. Terlihat sebuah kendaraan lapis baja bergerak keluar dari gerbang utama dan memasuki barisan bersama pasukan lainnya.

Tiba-tiba, Leena melayang sejajar di sisi Lynx, masih menggendong Ratih. Tatapannya dingin. Dia masih kesal melihat Lynx tetap merangkul Kanaya tanpa menyadari rasa tidak sukanya.

"Bagaimana, Lynx?" ucapnya lirih namun tajam. "Mereka banyak, melawan mereka tanpa melukai akan menyulitkan kita."

Lynx mengangguk pelan. Tanpa berkata apa-apa, ia memancarkan energinya untuk memeriksa keadaan untuk mencari keberadaan Lala. Lynx juga menggunakan mata langit untuk memeriksa namun jarak yang terlalu jauh membuatnya kesulitan melihat seluruh tempat di bangunan tersebut. terutama karena struktur bangunan dan peralatan yang kompleks.

"Kenapa kamu diam? Apa kamu menyerah sekarang? Semua pasukan ada di luar, bersiap menghadapimu," sindir Kanaya. Di perjalanan, dia mencoba menggunakan kekuatannya untuk mempengaruhi pikiran Lynx dan menjadikan budaknya, namun seperti menabrak dinding, kekuatan milik Lynx melindunginya dari pengaruh hipnotis yang diberikan, bahkan Lynx tidak menyadari apa yang sudah Kanaya niat lakukan kepadanya.

"Baguslah jika mereka semua ada di sini. Itu mempermudahku," tanya Lynx sambil tersenyum kecil. Ia sudah memeriksa bangunan dan menemukan hanya beberapa orang berada di dalam bangunan, namun ia tidak menemukan keberadaan Lala.

"Mempermudah? Apa yang akan dia lakukan?" batin Ratih dengan penasaran.

"Lepaskan aku, bukankah kamu berjanji aku hanya menunjukkan tempatnya dan aku sudah melakukannya," kata Kanaya dengan tegas.

"Baiklah, janji harus di tepati. Leena, bagaimana menurutmu?" tanya Lynx sambil memandang Leena. "Bukankah kita harus melepaskan mereka? Jadi, kita lepaskan saja mereka sekarang."

Leena tertawa geli di balik rasa kesalnya, "Kamu betul, aku ingin melihat bagaimana cara mereka mendarat."

"Mendarat?" kata Ratih dan Kanaya serempak. Wajah mereka memucat. Mereka bukan burung, dan tidak membawa perlengkapan, bagaimana bisa mereka selamat dari ketinggian seperti ini? Sementara di bawah mereka hanya tanah lapang, tidak ada tempat untuk mereka bermanuver mengurangi efek jatuh.

"Kamu… kamu berengsek. Bagaimana mungkin kami bisa tetap hidup jatuh dari ketinggian ini?" kata Kanaya dengan geram.

"Kenapa kamu marah? Bukankah ini permintaanmu sendiri?" jawab Lynx sambil menahan tawanya.

Ratih hanya diam memandang pertengkaran Kanaya dengan Lynx. Dia tahu, tidak ada gunanya membantah. Dia berada di posisi yang kalah dan terpaksa harus mengikuti keinginan pemenang.

"Sudahlah, aku hanya bercanda. Kita akan ke sana sekarang," kata Lynx dengan santai.

"Ke sana? Apa kamu bercanda? Lepaskan dulu kami di tempat aman. Kamu bisa melawan mereka setelah itu," Kanaya mengepalkan tangannya kesal. Meski dia berada dalam kuasa Lynx, namun dia bukan orang yang mudah menyerah kalah.

"Melawan? Apa aku pernah mengatakan akan melawan mereka?" kata Lynx sambil tersenyum mengejek.

Dengan satu tangan, Lynx membuat gerakan formasi dengan cepat, dan tidak lama sebuah lingkaran teleportasi muncul dihadapan mereka.

"Kenapa harus melawan jika ada cara yang lebih mudah. Tujuan kita menyelamatkan Lala, bukan untuk bertempur." Lynx tertawa kecil.

"Kamu...kamu..." Kanaya tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia mengepalkan tangannya dengan geram, wajahnya memerah karena menahan marah. Dia melupakan kenyataan bahwa pemuda yang bersamanya ini memiliki kemampuan membuat portal teleportasi seperti yang di lihatnya saat di kota Zhurong. Dan lebih lagi dia tidak menduga cara ini yang akan digunakannya tanpa menggunakan perangkat apapun melainkan hanya dengan gerakan tangan santai. Kekecewaan melanda hatinya, awalnya dia berpikir akan melihat pertempuran hebat antara kedua belah pihak.

"Apa ini?" batin Ratih. Kejadian di depannya belum pernah dia saksikan seumur hidupnya. "Jangan-jangan ini portal teleportasi? Tetapi bagaimana mungkin dia bisa membuatnya? Apakah dia menyembunyikan peralatan canggih dibalik pakaiannya?"

Ratih semakin tertarik dengan kemampuan yang dimiliki mereka berdua. Dia memandang Leena, wajahnya yang cantik, dengan kulit yang halus, tatapan matanya yang tajam dengan rambutnya yang terikat bergerak lembut tertiup angin malam ibaratkan seorang dewi dari khayangan.

Segera mereka berempat memasuki portal teleportasi dan muncul di dalam bangunan dimana ratusan pasukan dengan artileri berat menunggu kedatangan mereka di luar.

Saat memeriksa ruangan ini dengan kepekaannya, Lynx menemukan sebuah ruangan yang aman di masuki karena tidak ada orang lain di tempat ini. Selain itu kamera cctv hanya berada di depan pintu masuk untuk memantau orang keluar masuk tempat ini.

Tidak lama setelah cahaya portal teleportasi menutup, dari kejauhan sebuah sinar bergerak dengan kecepatan tinggi menuju tempat dimana Lynx dan Leena sebelumnya berada.

Saat sinar tersebut berhenti, terlihat sosok sinar tersebut ternyata berbentuk robot dengan seorang manusia didalamnya. Menggunakan daya dorong seperti api roket yang keluar dari kedua telapak tangan dan kakinya, membuatnya mampu terbang di angkasa.

"Sensorku menemukan anomali energi aneh di tempat ini, tapi tidak ada apapun disini." batin manusia yang berada didalam pakaian robot tersebut.

